Now Playing Tracks

Allah knows that you are strong enough, my dear.

Setiap manusia, ada ujiannya sendiri. Tidak sama.

Ingat, melalui setiap ujian, Allah selalu mengingatkan :
“Fainnama’al usri yusro, innama’al usri yusro”

Ada lagi janji Allah yang belum pasti?
Soal Ibumu? Seorang ibu selalu dan pasti tau yang terbaik bagi putra-putri nya. Sedih? Iya. Menangis? Tidak. Kenapa? Tak sampai hati seorang ibu menghalangi impian dan cita-cita buah hatinya.

Maka, selesaikanlah studimu. Cepat. Pulanglah dan temani Ia di rumah. Hibur hatinya ketika ia rindu adikmu. Aku tau kamu kuat, nduk.

Teruntuk : Aprilia ayu
Dari : “Hati-nya”

Tulisanmu dan kenangan itu

Aku membaca lagi tulisanmu. Dan dia. Perempuan itu.
Aku tergugu, apakah pradugaku benar kalanya untukmu. Diakah wanita itu?

Di tulisanmu, aku membaca sesuatu. Sebuah kenangan yang hanya kau sendiri yang tau.

Porak poranda! Mungkin begitulah kata chairil dalam puisinya.

Jengah aku menangkap mu. Hanya bayangan semu terbentuk dalam pola pikirku. Kau tanya apakah itu nyata? Tentu tidak sayangku.
Mana bisa kau menyentuh bayangan orang lain, jika ia tak pernah berdiri di dekatmu.

Aku lelah mengejarmu.
Aku berlari, kau berjalan. Aku terhempas, kau hanya terdiam. Usahaku hanya bagaikan sebidang tanah sawah yang siap digarap. Dan kaulah petaninya.

Aku tidak akan mencoba mengganti posisi wanita itu. Kita manusia dan kaupun tak terkena amnesia. Jangan memaksakan untuk lupa akan kenangan itu. Maukah kau ukir kenangan baru bersama denganku?

Hai. Terima kasih sudah membuatku tertawa hari ini. Taukah kamu? Aku masih terus saja menjadi stalker bagi akun media sosialmu. Apapun itu. Blogspot, twitter? Aku tau.

Mungkin sebait puisi tidak akan membuatmu hingar layaknya pasar.
Tapi, aku baru saja membaca blogmu. Dan rasanya, lebih sakit dari yang kukira pada awalnya.
Mungkin kau pun ragu, mengapa bisa begitu. Pun denganku. Sudahlah, aku tau kau tipikal loyal. Sama dengan perempuan itu.

Mungkin aku akan berhenti menyukaimu. Bukan, bukan untuk membenci tentunya. Hanya saja, aku cukup lelah untuk menjadi pendahulu.
Mungkin, sejenak membiarkan rencana Tuhan berjalan dengan semestinya bukan perkara sulit.

Jadi namamu …

Aku sudah membaca suratmu. Hem, pasti bukan untukku kan? Ah, sebegitu bodohnya aku mengharapkan hal itu darimu. Kau tau perumpaan fatamorgana di gurun pasir?. Iya, seperti itu aku mengharapkanmu. Tak akan pernah bisa kugapai, sekeras apapun aku menjamahmu.

Aku baru tau, bahwa tulisanmu sama halnya dengan dirimu. Terlalu ambigu. Aku tak dapat menyiratkan pesan terselubung itu. Apakah aku terlalu bodoh?

Terkadang, aku lelah menyukai pria-pria cerdas seperti dirimu dan dia. Hanya saja, aku merasa tertantang untuk bisa memperbaiki diriku agar sepadan dengan kalian*terlalu mendramatisir kan*

Tapi, akhir-akhir ini aku jarang memikirkanmu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Dan aku menyukainya. Walaupun mungkin, ketika aku menghubungimu ada secercah harapan ku untuk terus bisa menjaga intensitas komunikasi itu.

Aku tau kau tipikal sulit tapi loyal. Mungkin itu yang membuatku jatuh padamu. Aah, sudahlah, mana pernah kau peduli soal hal itu?

To Tumblr, Love Pixel Union